Minggu, 30 Mei 2010

review buku Sejarah teori antropologi II

SEJARAH TEORI ANTROPOLOGI II

Koentjaraningrat

I. Pengantar

Buku Sejarah Teori Antropologi II merupakan seri lanjutan dari buku Koentjaraningrat sebelumnya (Sejarah Teori Antropologi I). Pada buku sebelumnya Koentjaraningrat telah banyak mengurai hal-hal yang berkaitan dengan sejarah dan awal mula munculnya ilmu antropologi di dunia serta perkembangannya di Amerika Serikat dan di beberapa negara Komunis. Sedangkan buku lanjutan ini lebih memusatkan bahasan pada konsepsi-konsepsi dalam antropologi serta cabang-cabang teori antropologi. Seperti pada paper sebelumnya (Sejarah Teori Antropolofi I), paper ini juga merupakan uraian singkat dari pemahaman saya terhadap buku Koentjaraningrat (Sejarah Teori Antropologi II). Hal-hal yang berkaitan dengan tema dan substansi utama akan coba saya tampilkan disertai penafsiran seperlunya guna menghindari keterputusan bahasan, karena buku ini merupakan sebuah reduksi –disamping pandangan Koenjtaraningrat sendiri- dari banyak referensi buku-buku antropologi penting di dunia. Oleh karena itu selanjutnya, dalam membuat pembahasan berupa ikhtisar perlu juga kiranya diupayakan memiliki korelasi yang faktual dengan kalimat atau anelia yang diacu. Terakhir berupa kesimpulan, yakni pemaparan inti yang mencoba disampaikan Koentjaraningrat dan tidak menutup kemungkinan juga akan mencantumkan kritik serta saran yang relevan –dari saya selaku pembaca-.

II. Cakupan Isi

Pada buku seri kedua ini Koentjaraningrat membatasi isi dalam enam bab utama yakni [1] antropologi dan penelitian komparatif, [2] konsepsi-konsepsi antropologi psikologi, [3] konsepsi-konsepsi mengenai perubahan kebudayaan, [4] kebudayaan folk, komuniti kecil, jaringan kerabat, dan jaringan sosial, [5] cabang-cabang spesialisasi dalam antropologi, [6] antropologi terapan dan antropologi pembangunan. Kembali lagi pada konteks ini sangat tidak mungkin akan membahas seluruh bab utama tersebut, oleh karena itu ikhtisar pembahasan akan dilakukan dengan mengambil repertoar bab yang dipandang menjadi kunci utama dalam penulisan buku ini.

Di awal bahasan Koentjaraningrat memusatkan perhatiannya pada antropologi kaitannya dengan penelitian komparatif (perbandingan). Walaupun metode komparatif banyak ditentang pula oleh banyak ahli antropologi (menurut Koentjaraningrat adalah Levi-Strauss dan pengikutnya) namun tidak dapat dipungkiri bahwa penelitian dengan metode ini juga memiliki sisi yang penting. Bagi Koentaraningrat –seperti halnya pandangan A.J.F Kobben- penelitian komparatif dan non komparatif memiliki satu dimensi yang sama-sama penting dalam pengembangan ilmu antropologi, karena pada dasarnya mereka akan saling menunjang. Bagi ilmu antropologi yang berusaha mencapai pengertian mengenai tingkah-laku makhluk manusia pada umumnya melalui upaya mempelajari data-data beragam kebudayaan suku-bangsa seluruh dunia yang jumlahnya beribu-ribu, maka tanpa penelitian komparatif ilmu itu tidak ada artinya bila kita menghendaki generalisasi-generalisasi mengenai tingkah laku manusia. Sebaliknya, tanpa penelitian yang mendalam mengenai fungsi sosial dari semua unsur, pranata, dan aspek kebudayaan dalam suatu masyarakat yang hidup, maka suatu penelitian komparatif hanya menghasilkan generalisasi-generalisasi mengenai hal-hal yang dangkal saja. Dengan demikian keduanya sama-sama pentingnya.

Dengan tidak hanya memposisikan penelitian komparatif pada satu dimensi yang penting dalam antropologi, Koentjaraningrat juga merambah bahasan pada satu sisi bidang antropologi lain yakni psikologi (antropologi psikologi). Bagi Koentjaraningrat, antropologi psikologi yang terutama barkembang di Amerika menjadi sedemikian luasnya dan kini merupakan sub-disiplin ilmu tersendiri. Mula-mula antropologi psikologi berkembang karena [a] ada ahli-ahli antropologi yang dalam usaha memandang suatu kebudayaan sebagai suatu kesatuan yang holistik, memfokuskan pada “watak khas” atau ethos yang dipancarkan oleh kebudayaan yang sedang diteliti. [b] Karena ada yang berhasrat meneliti sampai di mana konsep-konsep atau teori-teori psikologi yang dikembangkan berdasarkan data dari kebudayaan-kebudayaan Eropa Barat dan Amerika metropolitan, bersifat universal dan dapat diterapkan pada individu-individu yang hidup dalam kebudayaan dan masyarakat di luar lingkungan tersebut. [c] Karena ada yang berkeinginan mendeskripsi kepribadian umum penduduk dari suatu kebudayaan tertentu dengan cara yang lebih ilmiah dan lebih teliti. Kecuali ketiga sebab tersebut, menurut Koentjaraningrat, antropologi psikologi juga berkembang karena adanya perhatian baru terhadap suatu masalah yang lama sebelum antropologi dan sosiologi itu ada, sudah ada dalam filsafat sosial. Masalah itu adalah hubungan antar individu dan masyarakat.

Selanjutnya Koentjaraningrat juga dalam bab utama yang dibahasnya menyinggung terkait dengan konsepsi-konsepsi mengenai perubahan kebudayaan, akulturasi dan inovasinya. Kesemuanya menunjukkan adanya gerak-gerak migrasi dari bangsa-bangsa yang membawa berbagai unsur-unsur kebudayaan untuk saling mempengaruhi pada kebudayaan bangsa lain yang mereka lalui ketika bermigrasi, sehingga menyebabkan perubahan-perubahan dalam kebudayaan-kebudayaan aslinya. Dalam konteks ini saya tidak akan membicarakan lebih lanjut terkait bahasan Koentjaraningrat mengenai perubahan kebudayaan karena bahasan mengenai bab ini banyak dan –bagi saya- sudah termaktub dalam isi dan bahasan pada buku serupa di jilid I (lihat bab 3 dan bab 4 jilid I).

Koentjaraningrat juga memusatkan bahasannya pada kebudayaan folk, komuniti kecil, jaringan kerabat, dan jaringan sosial. Penelitian terhadap suatu komuniti sebagai sautu kajian sosial holistik telah lama dilakukan para ahli antropologi, dan metodologi mencatat data hingga detail yang sekecil-kecilnya, yang dilakukan selama tidak kurang dari satu tahun, telah berkembang dalam antropologi setelah B. Malinowski yang melakukannya di kepulauan Trobriand. Sementara itu penelitian yang dilakukan terhadap kebudayaan-kebudayaan suku-bangsa yang memiliki sejarah peradaban tinggi seperti apa yang dilakukan oleh Redfield terhadap kebudayaan Indian Aztez (1930) telah menyebabkan berkembangnya konsep mengenai kebudayaan diantara yang tinggi dan yang primitif yakni kebudayaan ‘folk’. Kebudayaan folk bagi Koentjaraningrat merupakan sebuah kebudayaan rakyat umum yang berbeda dari kebudayaan-kebudayaan primitif dan juga kebudayaan tinggi. Sementara mengenai jaringan kerabat dan jaringan sosial hal ini juga sedikit banyak sudah termaktub dalam buku jilid I, sehingga dalam konteks ini tidak saya singgung.

Pembahasan yang menarik –setidaknya menurut saya- dalam buku jilid II ini adalah cabang-cabang spesialisasi dalam antropologi. Dalam konteks ini Koentjaraningrat meletakkan berbagai disiplin ilmu yang merupakan sub anak atau cabang dari ilmu antropologi. Cabang-cabang tersebut meliputi, (a) cabang antropologi ekonomi, yang pada intinya menekankan pada etnografi seputar mata pencaharian suku bangsa di dunia baik yang sudah mengenal sistem industri maupun yang belum, atau merupakan himpunan-himpunan dari berbagai macam sistem mata pencaharian hidup yang disusun menurut sistem klasifikasi tertentu. (b) Antropologi politik, Koentjaraningrat menegaskan bahwa cabang spesialisasi ilmu antropologi ini baru berkembang dengan pesat pada tahun 1940, yaitu tahun terbitnya buku African Political Systems redaksi M. Fortes dan E.E. Evans-Pritchard. Topik-topik yang menjadi bagian dalam ilmu antropologi politik ini meliputi masalah-masalah hukum adat, organisasi kenegaraan, organisasi perang, organisasi kepemimpinan, pemerintahan dan kekuasaan. Masalah-masalah yang menjadi ruang lingkup antropologi politik tersebut diuraikan kembali oleh Koentjaraningrat, namun karena terbatasnya ruang sehingga tidak akan dibahas di sini. (c) Cabang terakhir dari antropologi adalah antropologi pendidikan yang merupakan cabang termuda. Bahkan menurut Kontjaraningrat, di antara para ahli cabang spesialisasi ini ada yang mengatakan bahwa dipandang dari konsep-konsep antropologi, kajian pendidikan belum merupakan spesialisasi yang resmi. Namun, karena dasawarsa lalu makin banyak diperlukan keahlian dalam antropologi pendidikan untuk meneliti masalah-masalah pendidikan sekolah yang kian banyak, terutama pada masyarakat Amerika Serikat, maka dalam kalangan ahli antropologi umunya, antropologi pendidikan sudah dapat dianggap sebagai cabang spesialisasi antropologi yang resmi. Masalah-masalah pendidikan yang diacu dalam konteks ini meliputi masalah enkulturasi, sosialisasi dan transmisi kebudayaan.

Bab terakhir dari rangkaian pembahasan dalam buku jilid II ini berkaitan dengan antropologi terapan dan antropologi pembangunan. Antropologi terapan sudah muncul sejak awal pertengahan abad 19. Jenis ilmu ini menekankan upaya dalam menerapkan ilmu antropologi beserta cabang-cabangnya pada masyarakat suku bangsa yang dianggap “sederhana” maupun “tinggi” untuk mencapaui taraf hidup yang lebih baik. Koenjaraningrat banyak memberikan ilustrasi dalam penerapan ilmu ini pada negara Amerika dan Eropa dalam usahanya memperbaiki nasib suku-suku di luar totalitas negara atau suku bangsanya (misal Indian, Indonesia, dan lain sebagainya). Selanjutnya adalah ilmu antropologi pembangunan, Koentjaraningrat berusaha menegaskan bahwa ilmu antropologi dapat berperan besar dalam mengkaji masalah-masalah ekonomi pembangunan nasional. Terlebih apabila pembangunan nasional tidak hanya dikonsepsikan sebagai pembangunan ekonominya saja, tetapi juga sebagai pembangunan semesta yang menyangkut semua sektor kehidupan nasional, termasuk sektor kehidupan sosial, politik, agama dan budaya.

III. Kesimpulan dan Komentar

Kembali lagi merujuk dari tema utama yakni “sejarah teori” dalam buku jilid-II ini oleh Koentjaraningrat banyak menyinggung aplikasi konsep dan teori antropologi pada jilid sebelumnya secara lebih detail [lihat pada bab IV yang merupakan pengembangan bahasan dari persebaran kebudayaan dari jilid I). Selain itu Koentjaraningrat juga bersaha menguraikan cabang-cabang spesialisasi dari ilmu ini yang memungkinkannya muncul konsep antropologi baru seperti terapan dan pembangunan. Bahasan yang terakhir tersebut [terapan dan pembangunan] tidak lain memiliki pesan tersyirat Koentjaraningrat agar konsep dari ilmu ini dapat diterapkan pada banyak suku bangsa –temasuk di dalamnya Indonesia- untuk mencapai satu pengembangan kebudayaan manusia yang lebih baik.

Namun, karena buku ini adalah hasil dari mereduksi atau kumpulan poin penting dari banyak buku antropologi di dunia, sehingga memungkinkan pembaca tidak mengetahui titik persoalan secara lebih detail dan lengkap dan berbeda ketika membaca teks dan buku karangan yang asli. Namun demikian, di balik tersensornya banyak informasi penting sehingga memungkinkan pembaca buku ini menjadi second hand (melalui perantara yakni Kontjaraningrat), penulis telah berhasil membuat satu hal penting dalam hasil karyanya yakni Sejarah Teori Antropologi II sebagai bank data dalam melihat sejarah perkembangan antropologi dunia. Sekali lagi, dengan membaca buku ini (jilid I dan II) kita diajak menjelajah initi berbagai karangan, buku, tulisan etnografi oleh banyak ahli antropologi dunia. Di sini saya tidak akan mengulang kritik saya yang berkaitan dengan gaya bahasa dan penulisan yang sudah saya singgung di komentar pada buku jilid I, karena terdapat kewajaran-kewajaran tertentu –seperti tahun penulisan buku-. Namun, satu hal yang perlu dicatat, bahwa dengan adanya buku ini bukan berarti kita sudah mengetahui persoalan antropologi seluruhnya (baik konsep, teori, apliksi, dll.) karena buku ini hanya merupakan hasil kumpulan kecil dari banyak buku antropologi di dunia. Terlebih, sudah ± 30 tahun yang lalu buku ini ditulis, sehingga untuk saat ini tentu sudah banyak dan muncul buku, karangan, data-data antropologi baru yang inti bahasannya belum ada pada kedua buku yang ditulis oleh Koentjaraningrat ini.